Bayang dan Bunyi

 Kami yang menyimak setiap kalimatnya seakan larut melintasi rentang sejarah kelam yang mungkin bagi sepenggal generasi, tak dapat merasakannya dengan utuh. Kesadaran saya yang lain menyanggah Mirek, tokoh rekaan Milan Kundera pada 1971, tentang ungkapan “melawan lupa”, karena bagaimana kita lupa, sementara sejarah itu bahkan tak pernah (atau memang tidak boleh) kita dengar.

Mungkin di sinilah titik di mana keprihatinan Azhari dimulai. Orasinya menyibak ruang debat imajiner yang coba saya lalui perlahan.

Selengkapnya di Breedie.com..."Ketika Azhari Menyingkap Bayang dan Bunyi"


(Foto/Balairungpress) 

Komentar

Postingan Populer