Skuter Hijau Tua

 Tak ada yang berusaha memberi tanda, bagaimana Marza bisa menjauh dari cengkeraman mair yang mendekat penuh senyap. Malam itu tak ada yang begitu mengiba-ngiba nasib, para tetua gampong membaur pada temaram kedai kopi yang terus saja melalaikannya dalam riuh ramai.

Kelap-kelip lampu jalan di sekeliling kedai pada sabtu malam itu amat memanaskan muncung, kaum ayah terus bercengkerama dan mereguk kopi bergelas-gelas, seolah malam itu tepat menandai akhir bersua dengan semesta.

Malam itu pula, Marza baru selesai belajar di balai pengajian. Ia begitu semangat mengayuh sepeda karatan bersama teman-teman seperguruan, hanya demi menagih janji ayah,

“..pulang ngaji nanti abang baru ayah bolehkan naik vespa..”

Ia camkan kata ayah sore itu. Entah kenapa, mungkin karena di usia 14 jadi senang mencoba segenap hal baru, sekira belajar naik skuter lebih mengesankan, mirip rasanya seperti memeram tamagotchi, daripada menenteng telepon genggam yang sama sekali belum masanya.

Marza tak lupa pamer pada rekan senasib di balai kitab bajuri, ia ajak mereka jalan-jalan dengan skuter, sesekali tak apa dihibur, malam mingguan, berhubung anak seusianya belum ada rasa cemburu pada kakak-kakak remaja yang diapeli abang rambut klimis bercelana jubrai.

Memang, masa-masa itu Marza lebih banyak melongo, terpaku di depan rental Playstation 2 yang baru tegak di pertigaan sana, tongkrongan andalan anak-anak sekampung, tanpa Marza pernah menyewa barang satu jam pun lantaran tak cukup uang jajan, sebegitu disiplinnya sang ayah mendidik.

Merasa tak ada arus utama pergaulan yang bisa diikuti karena modal cekak, maka perhatian Marza terpaut pada skuter di gudang sebelah rumah. Ayah memang tak berniat melupakan motor sepuh ini, setelah sehari lalu ia baru saja beli motor bebek baru agar tak terlihat ‘ketinggalan jaman’ di mata tetangga.

Sejak itu pula skuter hijau tua itu nyaris mangkir dari peradaban, diperam secara terhormat siang dan malam.

Marza penyelamat, pengembali karisma motor tua yang hampir digilas zaman itu. Pernah ia iseng memelas pada ayah untuk belajar menghidupkan mesinnya di satu petang. Dan ia berhasil, brem brem bremm…

Sejak itu pula Marza tak lagi melongo. Ia rutin ngaji, sekolah, dan belajar naik skuter. Kadang-kadang ia tak sungkan sesumbar pada kernet labi-labi langganan tentang mimpinya memodifikasi skuter.

“keren juga bang kalau kita gabung-gabung komunitas, keliling konvoi malam-malam pake pespa..”

Sang kernet manggut-manggut sambil mengernyitkan dahi, demi menyenangkan hati pelanggannya yang banyak bermimpi ini.

Malang dikata, malam itu pula, tertanggal 25 bulan 12 tahun 2004, ayah macam ketiban ruh Stalin si otoritarian Rusia. Sambil memegang kalung tasbih, ia duduk tenang di ruang tamu dan berkata,

“Besok aja abang maen vespa, jangan malam ni. Vespanya udah ayah simpan, nggak ada minyak pun.”

Marza dongkol bukan main, buru-buru ingin memelas, melihat Ayah acuh dan komat-kamit meneruskan zikir, Marza pun kembali ke kamar dengan gontai, kecewa tak jadi main skuter. Sesaat kemudian kembali ke ruang tamu, benar-benar memelas, “Yah, boleh lah malam ni abang main vespa. Boleh ya?”

Ayah dingin, tak menghiraukan, dia tak ingin zikirnya diganggu. Terbersit di pikiran Marza apa yang dikisahkan tengku di balai pengajian, ada azab jika mengganggu orang ibadah, cerita itu membuatnya pasrah dan memilih kembali ke kamar.

Malam terlewat begitu saja tanpa pawai tunggal vespa kesayangan. Marza memejamkan mata, mencoba alihkan rasa dongkol yang teramat dalam, dan memimpikan jika saja pantai berada dekat dari rumah, alangkah asiknya mandi air laut saban petang.

***

Guncangan gempa dahsyat menyambut minggu pagi. Sekitar pukul delapan. Ini pertama kalinya Marza merasakan gempa, berbeda seperti ingatannya akan beberapa lindu ringan saat ia masih berusia kanak-kanak. Itu pun hanya tahu karena lampu hias di ruang tamu berayun-ayun diiringi teriakan Mamak.

Tapi gempa pagi itu, kuat. Sangat kuat. Marza, Ayah, Mamak, adik, kakak, semua berlari keluar lalu berlutut di pekarangan rumah, menahan keseimbangan. Tak lupa memanjatkan seluruh doa demi penenang rasa cemas. Suara benda pecah terdengar dimana-mana.

Saat reda beberapa menit kemudian, Marza melihat tetangga tengah membereskan kepingan vas bunga di teras rumahnya yang berserakan di lantai.

Marza beranjak dengan ayah, masuk ke dalam rumah, mematikan api kompor gas yang membubung hampir ke langit-langit. Akuarium di ruang tamu memuntahkan hampir separuh air karena guncangan gempa tadi, dan jelas membuat empat ekor ikan maskoki di dalam kotak kaca itu merayap-rayap tak karuan, ikut larut dalam kepanikan.

Marza menyaksikan pemandangan berikutnya di luar rumah. Warga yang tadi berhamburan ke luar, tengah berbincang satu sama lain dengan seru campur takut. Fiki, teman sepengajian melintas di hadapan Marza. Ia dibonceng ayahnya naik motor.

“Kemana Fik?” tanyanya.

“Kami mau lihat ruko fotokopi, di Lamteumen sana, ada kabar bangunannya runtuh semua,” kata Fiki singkat, tidak terlalu terdengar. Motornya lalu sigap menderu dan laju ke arah kota.

Marza hanya memandang sekilas, lalu tak ambil peduli. Ia sekeluarga masih bertahan di pekarangan, sambil merasakan gempa dengan getaran-getaran yang tak sekuat tadi.

Tiba-tiba,

Kerja otak mendadak berhenti tepat beberapa detik setelah warga di sekitar mendengar teriakan seseorang yang tengah berlari di jalan raya dengan kaki telanjang.

“larii…air laut naik!..air laut naik!..,” jerit pria itu terengah-engah.

Marza terheran. Ia melihat pria itu lama. Itu seperti jeritan orang gila korban konflik yang trauma melihat laras senjata lantas berlari sekencang-kencangnya. Tapi jika laut pindah ke dekat rumahnya, mungkin Marza bisa sedikit girang. Bisa saja gempa mengubah peta geografi, pikir liarnya, karena otak saat itu memang sedang berhenti bekerja.

Tapi tak lama, Marza mendengar seisi kampung berteriak. Mendadak ramai yang berlari. Ia lalu membuka pintu pagar, berdiri di tepi jalan aspal dimana puluhan, ratusan, tak terhitung warga yang panik berlari saling bertabrakan satu sama lain. Semua terasa begitu cepat, tak bisa dijelaskan. Marza tak berkata sepatah pun, tangannya masih menggenggam kunci gembok pagar.

Tak ada yang sempat berdiskusi untuk meresap pelan-pelan apa yang sedang terjadi, seperti halnya riuh kedai kopi semalam. Semua orang panik, anak balita menangis sejadi-jadinya lantaran resah yang membuncah di wajah ibu yang menggendongnya. Semua berlari, tua muda. Ketegangan sekejap pula menandaskan kerja akal, seolah semua orang kembali pada daya instingtif semata, menyelamatkan diri, dan itu sebab hasutan pria tadi, pikir Marza.

Seketika ia mendengar suara gemuruh dari jauh, benturan benda-benda semakin nyaring berisiknya. seperti ledakan-ledakan kecil. Suara tembok-tembok mulai roboh, seng berterbangan. Lalu dentuman tiang baja sepanjang jalan yang mulai bertumbangan terdengar sampai tempat ia berdiri. Jeritan dimana-mana. Suara gemuruh makin dekat.

Marza menoleh ke sebelah barat, tepat di perempatan jalan, gelombang air bah dengan gelegar menghitam setinggi pohon kelapa, menyapu hantam semua bangunan yang ada..dan siap menuju ke arahnya..dalam jarak sekian meter lagi, akan menenggelamkannya dalam mair.

Marza tertegun, ia teringat skuter tua yang ada di gudang..()

Komentar

Postingan Populer