Dalam Lupa
Adi Rukun, berjalan menjajakan jasa untuk mengobati penglihatan orang lain. Dalam sepenuh rasa bimbang, di tengah khalayak yang terus tanpa sengaja ingin melupakan –dengan keterpaksaan—apa yang menyayat luka di masa lalu, ia juga abai terhadap penglihatannya sendiri. Penglihatan yang mengikis sendi sang ayah dan ibunya yang terus menua.
Agaknya usaha Joshua Oppenheimer berhasil menuntaskan benang kusut dalam kisah keluarga Adi. Walau yang selesai hanyalah sejumput sesal. Keinginan yang tak terperi dalam mengungkap luka, yang telah dibiarkan mengering dan membekas merah, belum tentu dihargai. Kadang lupa memang ada untuk dipelihara. Manusia kembali pada tugasnya yang menata, dari simpul yang kelam mengiris hati, menjadi sebuah prakondisi. Pembelajaran dari itu semua tak tentu arahnya.
Saat terikat tujuan, seringkali kita tak begitu memperhatikan proses. Joshua sedikit saja meluangkan usianya untuk itu, ibarat melihat ruang-ruang kosong yang sering ditinggalkan, padahal ruang itu begitu berarti, buat orang banyak. Karena tak ada perabotan apapun di dalamnya, barangkali. Hanya dinding retak dan langit-langit bocor pertanda taring alam yang memakan kefanaan.
Begitu lah Adi dalam “Senyap”, sebuah refleksi dari kegetiran sejarah. Film ini dikecam, seiring beberapa tahun kemudian bahaya laten komunisme digembar-gemborkan militer. Semua beralasan sama, bahwa komunis adalah percikan dari perubahan yang menghalalkan pengorbanan nyawa banyak orang, maka dari itu harus dihentikan.
Sulit sekali meluruskan persepsi awam tentang film Senyap. Namun begitu pula kita melestarikan lupa. Bagaimana kita, Aceh, berupaya melewatkan tragedi Jambo Keupok pada 2003 silam demi sebuah janji perdamaian, sajian masa depan yang cerah dimana kestabilan sosial atau ekonomi yang bebas inflasi, atau kebebasan berpendapat. Tapi sungguh, niatan itu terlampau dimentahkan oleh kebijakan politis, yang tumbuh dalam ketakutan berkaca pada masa lalu. Wacana kemudian menguatkan, dari mulut ke mulut orang-orang meminta supaya kegelapan itu dilupakan.
Oase seperti Joshua, begitu saya sebutkan, mungkin kesia-siaan dalam benak banyak orang lain. Pesimisme terhadap kejujuran dan keterbukaan, memang penyakit yang terus kita pendam bertahun-tahun. Para korban, perempuan dan lansia, atau mereka yang telah kehilangan organ tubuhnya karena dihujam peluru nyasar, berusaha membangun lupa. Karena lelah melestarikan percaya. Percaya bagi mereka adalah sebundel data normatif yang penuh dengan janji- janji penyelesaian yang palsu. Mereka adalah wajah-wajah jenuh HAM, sebagaimana jenuh pada orasi calon penguasa yang menjual slogan penyelesaian konflik.
Namun apa yang berharga seringkali terlewatkan. Saya begitu sering mendengar orang bertanya, apa perlunya mengungkap masa lalu? Entah. Saya juga tak merasakan ada perubahan. Ini pertanyaan yang terus saya renungkan jawabannya.
Artinya, mungkin sama tak berguna dengan Footnotes in Gaza yang ditulis seorang jurnalis Barat, Joe Sacco. Ia mengungkap cerita tentang Khan Yunis, sebuah situs tragedi pembantaian sistematis ratusan warga Palestina oleh tentara Israel pada 1956. Seorang kurator komik, Mohammad Hadid menulis resensi mengenai ini.
“Sebelum Sacco, hanya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang pernah merilis dokumen tentang peristiwa tersebut. Dokumen lain—menurut Sacco—sulit ditemukan sebab, nyaris tak ada bahan apa pun yang ditulis dalam bahasa Inggris mengenai peristiwa itu”, tulis Hadid.
Pembantaian di Palestina terus berlangsung, dengan intensitas yang tak terhitung. Sacco hanya menulis sekelebat, karena setelahnya Khan Yunis seakan terhapus, puluhan genosida terus menyusul.
Upayanya bukan tanpa aral. Seperti Joshua, Sacco mengabaikan objektifitas. Mereka berdua mengandalkan keterangan para penyintas, ingatan yang belum tentu dapat dipastikan kebenarannya. Tapi, Joshua --meski dalam banyak wawancara di media mengutarakan empatinya yang terdalam terhadap Adi sekeluarga— juga dengan jelas memberi ruang bagi para jagal untuk bersuara.
Perasaan takut terus berkecamuk, karena hampir setiap rezim setelah tahun-tahun pembantaian di 1965 dirasa tak punya sangkut paut. Untuk segala tindakan represif, saya bahkan pernah mendengar langsung di televisi, dimana para pelaku merasa apa yang mereka lakukan di masa lalu adalah bagian dari keadaan yang “terpaksa”. Lagi-lagi ini jadi persoalan politis.
Lalu kenapa terus ada riak-riak yang “memperkeruh” , seperti Joshua dengan dwilogi Jagal dan Senyap-nya serta Joe Sacco dengan Khan Yunis?
Mereka hanya ingin menatap dinding retak di ruang yang terabaikan. Mencermati perubahan alam yang memakan segala.
“Masa lalu tak akan berlalu selama ancaman masih terus membuat kita terlalu takut mengakui apa yang telah terjadi.”
Pelan-pelan saya simak kalimat Joshua itu.....[]
-2.jpg)

Komentar
Posting Komentar