Sendiri

Sore, ruang saya hanya menatap senja yang menyilaukan. Membiarkan warna itu hilang dan awan tetap mengawang sendiri. Gumpalan yang lepas dibalik menara. Membiru, dan cahaya di puncak menara itu berkelip di kejauhan. Kemudian pelan-pelan saya sandarkan kepala, berbaring.

Lama dalam sendiri, pikiran sama senyapnya dengan saat-saat paling menentukan, memilih untuk berdiri sendiri.

Lagipula kita akan mati sendirian, pikir saya. Niat untuk melupakan tujuan absolut terus membuncah, melupakan narasi Hegel, karena jatuh cinta pada segala bentuk diferensiasi, pada "yang lain". Seraya mencabut raga dari segala bentuk totaliter, itu sebabnya saya merasa akan sendirian.

Butuh keyakinan kuat untuk meninggalkan --apa yang awam kita sebut-- logosentrisme. Kita semula terbiasa pada euforia. Hidup karena didukung sekelompok bervisi sama, sulit menerima keharusan untuk berdiri di atas prinsip sendiri. Saya tidak bisa berbohong, dengan mengatakan gampang menganulir segala bentuk definisi tunggal. Nyatanya sulit, sangat sulit. Terlebih setelah semua yang terjadi, semua yang hilang berantakan. Manusia pun enggan mendengar, mereka yang mengaku paling waras, mengecam keragaman melalui label yang mereka buat sendiri.

Pertimbangannnya cukup sederhana. Generalisasi disepakati, lalu melahirkan makna yang sepihak. Sewajarnya demikian karena ini hasil pikiran manusia. Cenderung mempolitisir, selalu. Yang sampai saat ini tak dapat saya bayangkan, bagaimana politik itu lalu manghalalkan pembasmian satu sama lain.

Di satu pihak, segolongan manusia mendompleng langit dan bumi, membiarkan egoisme  mereka membelenggu kemanusiaan dengan kalimat kalimat yang hiperbol, "kebenaran sejati", "pilihan tuhan", "peradaban", lalu disitu lahir penaklukan, imperialisme, dan kita telah merasa benar dengan menafikan   segelintir perbaikan yang diupayakan orang lain.

Hampir di banyak tempat, kita bisa menemukannya. Manusia menenteng kebenaran, menganggap hidup terpisah dengannya. Seolah sesuatu yang dijadikan tujuan, amat ingin dicapai. Tak ada kesadaran mempertanyakan, bukankah wujud manusia sendiri adalah percikan dari kesejatian itu.

Dan kita tetaplah sendirian..

Mengingat kisah hidup Soe Hok Gie, seorang demonstran tahun 60-an yang menyuarakan Tritura, ada sebersit pelajaran berharga. Tentang ia dan rekannya yang memenangkan kursi Senat mahasiswa, berupaya membersihkan lembaga dari kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Independensi itu pula yang menjalar pada akibat di keadaan lain yang jauh lebih krusial.

Gie bisa dibilang beruntung. Sempat meragukan dominasi komunisme di indonesia, menyaksikan langsung Soekarno lengser, hegemoni militer, dan proyeksi mengenai masa depan orde baru. Ia hidup dalam rentetan masa-masa genting tersebut. Sayang, persepsinya sendirian.

Perlawanannya terhadap militerisme pada awal Soeharto berkuasa, yang menurutnya tak kalah represif dibanding era demokrasi terpimpin, tak mendapat dukungan dari siapapun. Ia sendirian, terlebih saat dengan menyesal berkata,

"Bagaimanapun, saya adalah bagian yang membuat militer berkuasa sekarang."

Ucapan yang semakin mendorongnya ke jurang kesendirian. Ia menyesal menyaksikan tirani yang hanya berpindah tangan. Kemelaratan rakyat tak berubah. Tapi ia tak putus asa.

Ia lalu menulis, tentang pembantaian di Bali akhir 1965 yang sontak membuat seantero kaget. Karena tak seorang pun merasakan perlunya perlawanan lagi. Tapi Gie, dalam kesendiriannya tetap merasakan ada ancaman yang sedang menunggu bangsa, kengerian yang tak dirasakan oleh siapapun, saat itu. Gie tengah membangun definisi "yang lain", tidak berkelompok, tidak ada tendensi.

Ia terus memilih untuk sendiri, keluar dari animo mayoritas, sekaligus menjauhi keberpihakan kelompok. Menyedihkan, orang-orang "waras" lalu berkuasa membiarkan Gie dalam kesepian, diteror, sebagai orang yang "bukan pilihan tuhan". Ironis..

Kala sebuah pergerakan mengedepankan logosentrisme, saya perlahan yakin ia hanya mewarisi fanatisme, ketundukpatuhan, dan kegilaan yang sama. Fanatisme yang hanya berpindah tangan. Label "kebenaran sejati" telah usang, barangkali demikian yang dipikirkan Gie. Kecenderungan untuk berkelahi dan membasmi akan selalu ada.

Karena nya pula tak lagi penting, membangun euforia. Gie telah siap dalam dinamika yang tak kiri, tak kanan, tidak pula di tengah-tengah. Bagi seorang yang bukan "pilihan tuhan" sepertinya, poros tak begitu berarti lagi.

Kalau saja masih hidup sampai sekarang, Gie akan nanar melihat tendensi yang semakin parah di sana-sini, ia akan terheran-heran melihat masih ada orang yang mengagungkan kalimat, "kamilah kebenaran dan kalian salah", masih ada pihak yang menghujat rekannya yang tak lagi sejalan dengan kata-kata "pendusta", "hipokrit", maka saat itu lah Gie menghela napas,

"Ternyata mati sendirian memang indah.."

Saya juga terpaksa setuju dengannya, yang dengan sadar meninggalkan pembenaran sepihak. Demi sebuah petualangan yang tak akan ada habisnya, demi persepsi yang terus ditempa, dan yang paling penting, demi dinamika proses, bukan tujuan. Seperti Gie, yang sendirian hingga akhir hayatnya. Mati muda..

Komentar

Postingan Populer