Roman
Hujan hanya turun sebentar. Malam yang senyap. Desiran angin menyela gerimis, semakin menyejukkan. Saya pun masih enggan memejamkan mata.
Saya rindu Keumala. Bilik-bilik gulana berderet dengan manisnya menanti kemesraan. Benar lah, manis sekali rasa saat memanjakannya, ingin saya reguk berulang kali.
Semua karena hujan, rintiknya menoreh bait romansa. Rangkai yang teramat sulit dijamah kebiasaan, terpaut jauh dari pikiran orang-orang yang gaduh meributkan hidup.
Tak ada yang sejalan dengan kita, Keumala. Begitu pun saya. Namun sudah banyak kelelahan mengaliri langkah-langkah ini.
Suatu malam lain, saya terkenang. Tepat saat anak-anak Paniai di ujung timur sana bersimbah darah dihantam timah panas. Lalu wajah mereka tenggelam di lautan sunyi. Tak tahan pula batin ini mengusap tangis orang tua karena kehilangan buah hatinya.
Saat kabar itu mulai kentara dari banyak lisan, malam-malam berikutnya saya semakin susah tidur. Jasad mereka yang tergeletak sambil diratapi sanak saudara, terasa begitu dekat. Saya tak kenal mereka, bujang belia. Namun arah angin terus berhembus ke barat dan saya tidak pernah tidur dengan tenang.
Dalam remuk yang tanpa makna, tiba-tiba, saya merindukan Keumala. Saya membayangkan, malam kita berbaring sambil saling menggenggam tangan, lalu bercerita tentang anak-anak. Entah mereka sedang asik bermain di lorong-lorong kota Damaskus, atau bertebaran di puing-puing Deir Yassin.
Seperti bocah yang berlarian, lalu terjun ke laut, berenang dengan riangnya, saya membisikkan pada Keumala, "mereka anak-anak kuat."
Ada dimana-mana, tetap bermain dalam suasana kota yang rapuh karena gempuran lapis baja, teguh rautnya meski legam di tambang berlian, atau seperti di Paniai, senyum getir menatap ujung senapan.
Keumala mendesah lalu berkata, "kita mungkin tak lebih kuat dari anak itu."
Saya menoleh pelan dan menggenggam tangannya lebih erat. Kita bagian dari mereka, anak-anak itu, Keumala. Kita berusaha menahan kekalutan ini. Berjalan riang seperti mereka, tidur seperti mereka, bermimpi seperti mereka.
Mungkin, begitu layaknya kita bangun romansa. Selalu berdamai dengan kisah anak-anak. Karena pertemuan kita juga dalam senggang dimana ada bocah kegirangan yang merangkak menggemaskan.
Keumala mulai melirik saya, sedikit heran. Saya menggodanya, "ingat kah?"
Lalu saya bercerita hari yang kita habiskan berdua. Saat itu, di sebuah rumah sakit, kita mendadak berperan jadi orang tua dari seorang bocah yang dititipkan ayahnya sementara. Anak ini bahkan belum bisa berjalan. Lalu kita bergantian menggendong, dan memapah kedua tangannya. Ia mulai merangkak dengan dua kaki mungilnya. Sambil tertawa manis, bocah ini semakin kerasan. Kita memapahnya lagi kesana kemari lantas ikut tertawa. Kita lupa pada waktu.
Mengenang cerita itu, kita lalu terdiam, lama. Keumala tersenyum, membisik kemudian, "iya, mereka anak-anak yang kuat."
Saya masih menggenggam erat tangannya. Kehangatan yang lebih. Lantaran dibuai gendam yang makin menghanyutkan. Menyihir alam sadar di lirih angin.
Malam semakin larut. Keumala mulai memejamkan mata. Saya kembali berziarah, dalam mimpi dan ikut meratapi anak-anak Paniai, mencium bau anyir darah yang terus mengalir, dengan malam senyap, bersama kegetiran yang belum juga berakhir, di timur sana..
-2.jpg)

Komentar
Posting Komentar