Pasar
Tidak ada perubahan signifikan dalam musik Efek Rumah Kaca, setidaknya setelah saya mendengar beberapa lagu baru dalam tajuk Sinestesia.
Dalam lagu "Pasar Bisa Diciptakan", ERK tetap akrab dengan sentuhan gelap dan tipikal pop penuh. Suara distorsi gitar ditindih antara padat dan nyaring, tetap ERK yang saya sukai. Selipan melodi pengiring lirik dan seperti klimaks, semakin lama semakin berisik, dan ERK tetap membuat pasarnya sendiri.
Pasar alternatif selalu lebih menarik. Meski sejatinya kelompok manusia ingin memiliki kehendak bebas, nihil, namun kalangan yang tak ingin melebur dalam popularitas yang bisa mengaburkan prinsip, mereka menawarkan ide perlawanan yang lebih segar, sambil terus menyertakan ketidaksesuaian pada paradigma massa.
Maka tidak salah dengan sebuah ambisi "membangun kota dan peradaban sendiri", seperti yang tertera dalam lirik ERK. Karena akumulasi dari ketidakpuasan, ketidakadilan, dan ketidakberdayaan mendorong sebuah kreatifitas. Menawarkan solusi lain, bahwa semua tidak mesti seperti yang diinginkan mayoritas. Pasar yang kini mengedarkan hal-hal instan tidak selalu harus diikuti. Senada dengan visi berdikari, serasa masih perlu kiri, masih perlu "perlawanan dengan seni" yang futuristik.
Aktualisasinya menurut saya berbeda dengan zaman kemarin. Ide pembersihan homogenisasi dengan mengembalikan kita yang majemuk. Melupakan absolutisme dengan mendedikasikan diri dalam lautan persepsi yang jauh lebih rumit, kompleks, namun memperluas wacana. Yang demikian bisa membuat kita jadi generasi yang lebih bijak dalam menimbang. Saya tidak bisa tidak sepakat dengan "pasar alternatif", pasar bagi yang kritis.
Apakah pasar kita sendiri bisa diciptakan? Saya belum melihat apa yang siginifikan dari pasar ideal, dimana semua kalangan diberi tempat tanpa harus terkotak hirarki, semua karya diapresiasi, tidak akan pernah, mungkin. Hampir semua cara hidup yang berasal dari ide manusia punya sisi yang bisa dikritisi. Maka kiri akan selalu ada. Dan lagi-lagi saya tidak ingin melihat apa yang benar dan salah berdasarkan pandangan tertentu.
Orang-orang yang merubah arah pergerakannya, tidak jauh berbeda dari contoh mereka yang ingin pasar sendiri. Ini semua soal ide. Dan menariknya, selalu muncul bahasa-bahasa "mapan" dan "antikemapanan" disini. Perlawanan sering diidentikkan dengan jalanan, lusuh, kesakitan, dan saya tidak sepenuhnya setuju. Sebutan paling adil menurut saya adalah "berbeda".
Tidak perlu terikat di sisi bahasa, kaum kiri mengidentifikasi massa sebagai pangsa yang telah diperalat. Lalu darimana kesadaran kita peroleh? Ada baiknya kita kembali mengenang sejarah bagaimana generasi filsafat abad ke-18 mendobrak rasionalitas yang populer pada masa sebelumnya. Generasi Locke mengkritisi, bahwa tidak ada ide yang sempurna, seblum indera menyentuhnya, maka lahirlah empirisme.
Tidak berbeda pula dengan bagaimana sekalangan ingin menciptakan 'pasar' bagi eksistensi mereka. Lantaran budaya massa yang terlalu sering menciptakan ilusi, tampilan kemapanan yang memanjakan imaji, kita terbuai. Padahal dalam kenyataannya, "ketidakcukupan" itu tidak pernah jelas dimana letaknya. Orang yang mengenal perlawanan menyadari bahwa tidak ada titik dalam hasrat. Kita terlalu disibukkan dengan menyukai pintasan hal-hal instan. Maka ketika indera menyentuh fenomena, prinsip pun ditempa. Ada keyakinan bahwa kita tak layak larut dan kalah.
Akhirnya, pasar sendiri, yang ada beserta 'peradaban sendiri' kata ERK, yang menolong. Ia menegaskan bahwa kita perlu "yang bergizi, bukan yang malnutrisi", penekanan pada "substansi" adalah penyadaran yang cukup penting, bahwa pasar ini telah lain fungsi. Kenyataan empirik sehingga kita butuh lebih dari apa yang ideal, yakni proses dalam karya cipta manusia. Sehingga kreatifitas, bukan cuma pajangan etalase. Itu pasar kita. Percayalah, pasar bisa diciptakan..
(Catatan 3 Nov 2015)
-2.jpg)

Komentar
Posting Komentar