Lakon
"Kinilah kita baru tahu, kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja di masa lalu.."
Sepenggal kalimat yang terlintas di benak saya, tulisan AA Navis dalam cerpen "Dari Masa Ke Masa". Saya menggemari kutipan-kutipannya yang sarat otokritik. Sesekali ia menyajikan gambaran yang dramatis, seperti sisi hidup masyarakat perkampungan, polos, tapi menyemat hikmah, tak jarang tokoh-tokoh di dalam cerita itu mengibakan saya.
Barangkali gambaran lainnya, akhir yang tak selalu membahagiakan. Kadang satu klimaks menyisakan persoalan baru yang muncul kemudian. Lalu tak selesai. Alur menyesap perasaan lemah terhadap suatu yang "tanpa penghabisan". Lelakon yang kerap menyisakan tanya, tanpa penjelasan, serta merta mendorong kehalusan narasi sebuah ironi. Ya, ironi yang sulit dipindai sedari awal cerita. Kebuntuan yang khas, melepas imajinasi "pasaran" yang menghanyutkan para pendambanya.
Agaknya mengingatkan saya pada zaman barok. Reaksi atas pencerahan yang muncul di abad 18, yang kemudian mengagungkan hidup sebagai lakon. Tampilan drama yang ditonton orang saat itu merupakan refleksi dari realita hidup. Seni mendadak agung, gaya glamor, eksentrik, mewabah. Namun bukan ini yang sebenarnya ingin saya pikirkan. Melainkan kalimat Shakespeare, seniman kenamaan zaman tersebut lah yang membekas, "hidup adalah panggung sandiwara".
Reflektif, baik itu konstruksi alur yang kemudian termanifestasi dalam gejolak realita, atau interaksi dan momen mengesankan dari sebuah realita yang ditampilkan ulang. Panggungnya variatif, bak wayang, atau sinetron di televisi, atau fiksi di lembaran cerpen yang menyentuh sisi humanis. "Dalang" disitu beralih rupa seolah pujangga yang menutup drama dengan pesan bijak nan luhur. Kita menyerapnya.
Adakalanya peran sang dalang lambat laun berubah sesuai zaman. Ia bisa saja tak lagi pujangga, tapi larut dalam gerombolan yang lapar, menyatu dalam deru nafsu dan kebosanan yang amat sangat, lalu mereka menari bersama melepas dahaga. Dalam lakon tak berisi seperti ini, penikmatnya menjamur, tak kenal umur. Mereka bergantian mereguk sukacita atas ketidakberdayaan. Di satu sudut temaram mereka terbahak-bahak karena guyonan kotor. Entah kenapa, disitulah etika berubah standarnya. Dalam lirih, pergolakan hidup yang miris dianggap dapat tertawar dengan tawa dan caci maki. Apa daya, dominasi uang pemodal membuat ceruk dan merestui cara kita yang seperti itu. Makin konfrontatif, makin ada keseruan.
Di sisi lain lagi, saya mengenang masa-masa belajar jurnalisme. Baik konflik, damai, pembangunan, semuanya bicara tentang pembingkaian realitas. Saya terusik, apa idealnya?
Istilah yang membantu saya menemukan jawabannya, adalah paradigma konstruksionis. Memang belum terbantahkan. Tak ada satupun pretensi yang dapat dianulir. Kita dibentuk oleh dialektika. Semua perspektif yang terbangun berdasar pengalaman yang diterima. Apa yang kita lihat, tak sama identik dengan yang dilihat orang lain. Tak ada yang ideal, melainkan relatif.
Kiatnya adalah menghindari bias sedapat mungkin, polanya barangkali dengan memperlebar jendela pandang. Masalahnya kemudian, tidak semua orang rela melakukannya. Sebagian memilih untuk tidak terlalu banyak tahu. Supaya minim memikul tanggung jawab. Mereka hanya ingin yang sederhana, tidak butuh kompleksitas.
Plot di koran-koran juga awam, "lantaran faktor ekonomi", "dendam", konstruksi atas realitas pun terpacu sesat pikir. Tapi kita juga harus mafhum. Itu juga salah satu cara membingkai realitas.
Lakon yang paling mengesankan bagi saya, adalah "sentral" epos yang dikisahkannya sendiri, demikian julukan pengagum untuk -- Pramodya Ananta Toer. Lakon yang satu ini sarat perlawanan, membenah kemestian yang tercipta dan dibudidaya masyarakat. Dengung-dengungnya mirip dengan --kalau boleh saya sandingkan-- Cokroaminoto. Ceritanya dalam membekas. Entah karena plot penuh terjal sang tokoh, atau sejarah hidup sang pengarang, Pram, yang penuh represif. Siksaan hidup yang membuatnya keras hati ini, memberi kekuatan dalam tiap nalar pembacanya.
Sama seperti kutipan di awal tadi, membenahi akibat kerja masa lalu, begitulah pelik Pram yang pernah diceritakan Goenawan Mohamad, "membuatnya sulit memaafkan rezim". Lantas kemudian ia menimpali sikap Pram itu dengan pernyataan tegas, "semestinya tak ada hierarki dalam kesengsaraan, bung Pram."
Bagi saya, orang awam yang sangat jauh dari pergolakan semacam itu, hanya tersisa dua mungkin.
Sikap rekonsiliasi. Bahwa lakon Pram bukan miliknya semata, melainkan representasi dari derita setiap pejuang dalam lingkar perlawanan. Tapi ada proses yang terus mengiring disitu, sampai di satu masa siapapun yang terlibat akan mengerti kenapa ketimpangan bisa terjadi. Harus ada pengorbanan.
Atau, Goenawan Mohamad sedang mengumbar guyon saat Pram berlakon. Guyonan yang tak ada empati. Ia tak merasakan derita penjara tiga rezim berturut-turut, maka mudah bicara. Layaknya pengamat yang mengomentari kebijakan. Ia berhak bicara lepas sesukanya, tanpa pernah merasa bagaimana melaksanakan pemerintahan.
Tapi..sudah lah, toh Goenawan dan Pram punya sejarah lakonnya sendiri, pergulatan yang pernah terjadi antara seniman Lekra dan penandatangan manifes kebudayaan. Dan belakangan keduanya melunak di usia senja.
Demikian lah benturan-benturan, hasil dari kecenderungan dalam pembingkaian realitas, begitulah. Ada jarak antara kita dan dunia yang terhalang sekat, kotak raksasa yang memendarkan aneka ragam cahaya, kita penonton lakon, dan kadang kita juga pelakon.
-2.jpg)

Komentar
Posting Komentar