Kota
Akhir 2015 lalu, saya sempat membaca ulasan majalah Tempo tentang sebuah tampilan musikal mengenang sineas Jerman, Friedrich Anton Lang. Cerita tentang Metropolis, sebuah melodrama klasik yang dibuatnya pada tahun 1927 itu sangat mengesankan.
Meski sampai sekarang saya masih menyimpan rasa ingin tahu yang amat mendalam mengenai makna film ini. Pada intinya, Metropolis berkisah tentang kota “muram” di masa depan.
Muram yang dimaksud disini, tentu saja bukan mengedepankan sisi sinematiknya dalam latar yang kaku lantaran hitam putih belaka –mengikuti tahun pembuatan film yang memang demikian adanya, tapi Metropolis dengan gamblang menampilkan sebuah peradaban yang kontras, sekaligus memilukan perasaan, mengenai masa depan manusia. Apa yang kemudian disebut Distopia, tak lain merupakan gambaran singkat yang dapat orang-orang simpulkan setelah menonton Metropolis, sebagai kecemasan yang entah dimana ujungnya.
Paling tidak saya terbantu usai membaca tulisan Goenawan Mohamad yang cenderung menyamakan konteks dalam Metropolis tak ubahnya seperti film Children Of Men (2006) yang pernah saya tonton. Sedikit catatan perbedaan, film ini lebih ekstrem memang, disini saya mulai mengenal teknik handheld, dimana perekaman gambar tanpa alat bantu apapun selain menenteng kamera dengan tangan kosong, alhasil gambar terlihat goyang. Namun disinilah yang menambah kengerian di benak penonton yang seakan berada langsung di latar film tersebut, bergelut dalam medan perang akibat chaos yang tak berkesudahan.
Saya tak bermaksud bercerita rinci mengenai kedua film –yang rentang masa pembuatannnya tepaut jauh seabad ini. Tapi, baik Metropolis maupun Children Of Men, adalah percikan segelintir kita yang ragu terhadap kehidupan sosial manusia, berpijak dari konteks masa kini. Ada beberapa asumsi yang berangkat dari “kebingungan” kita akan kondisi politik, budaya, dan kebobrokan otoritas hingga berdampak pada kesengsaraan yang “tak terlihat” disini.
Muramnya konflik antar manusia tidak sepenuhnya bisa diketahui langsung, layaknya kesadaran adanya penjajahan budaya sampai pentingnya revolusi –wacana yang puluhan tahun lalu terus mengemuka sebagai cara mendobrak status quo. Kadang manusia terlanjur menikmati keadaan. Menebak apa yang “tak terlihat” itu, tentu tidak sepadan dengan menggali fakta dibalik kebesaran kota Metropolis --yang ramai oleh gedung pencakar langit, kendaraan mewah yang berlalu lalang, serta rutinitas yang terlihat stabil--, yakni ada ribuan buruh terpendam kelam dibawah kota yang sedang bekerja mempertahankan pondasi kota itu. Semua terlihat mudah untuk ditebak. Karena toh itu lah yang sebenarnya kita saksikan sekarang di kehidupan nyata.
Disini pula beredar cemoohan pada segala teori, bahwa tidak semua dapat dibakukan dalam seperangkat analisa seperti yang disampaikan para pakar. Fritz Lang dalam Metropolis mencoba menyederhanakan apa yang terlihat rumit dalam realitas masyarakat, dan sebenarnya itu lah tugas seorang pembuat film. Tak dapat dipungkiri, kemajuan teknologi telah melampaui harapan penikmat film di zaman itu, mengagumkan. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah gambaran Metropolis cukup mewakili keraguan itu?
Saya kadang gusar, setiap keragaman terlihat sederhana, dengan sendirinya. Namun saya terus meyakinkan diri bahwa realitas tidak hanya bicara benturan antara siapa yang beruntung secara ekonomi-politik dan siapa yang tertekan. Tapi sepertinya kita telah kedatangan poros ke tiga.
Entah bagaimana saya dapat menamakannya. Barangkali istilah embourgeoisement —tanpa bermaksud mengecilkan pencetus teorinya, MacKenzie-- terpaksa saya gunakan. Ada situasi dimana orang-orang yang secara objektif tidak pernah diuntungkan kemaslahatan ekonominya, mulai mengambil dan menghayati karakteristik kaum kelas menengah. Ini tentu tidak tergambar dalam Metropolis. Bisa jadi latar dimana Fritz Lang hidup di tengah bergaungnya nasionalisme Jerman saat itu, membuat situasi sosial begitu kentara memperlihatkan “penguasa vs rakyat” atau “kaya vs miskin”. Dan bahkan, saya pikir borjuisifikasi (yang ini baru saya temukan istilah lokalnya) belum lahir.
Dimana-mana kita melihat, mulai menjangkit semacam penghambaan yang linier pada hasil produksi. Hal ini dilatarbelakangi juga dengan kaburnya pandangan kita dari nilai guna yang berbasis pada kebutuhan, menjadi sepenuhnya semu tentang persoalan kultural semata. Orang-orang tak lagi sibuk mempertanyakan ketimpangan sosial yang menekan mereka, tapi memilih meleburkan diri pada budaya massa.
Sejak lama Horkheimer, serta teman-temannya sesama eksponen mazhab Frankfurt menentang hal ini. Budaya massa, seperti diterangkan Herbert Marcuse dalam karyanya One Dimensional Man (1964), telah mengubah secara massif estetika seni dari nilai nya yang progresif, agung, menjadi sekedar industri yang konsumtif. Oleh karena itu, penting sekali mengubah paparan Marx tentang pertentangan kelas menjadi suatu kajian yang lebih kontekstual. Chabib Mustafa dalam tulisannya tentang teori kritis, mengungkapkan, bahwa kehancuran kapitalisme seperti yang diramalkan Marx tidak akan terbukti. Secara tak langsung, saya kira apa yang ada di dunia nyata tak akan sesederhana tampilan Metropolis. Kelas menengah yang menguasai industri dengan monopoli modalnya tidak serta merta dibasmi dengan aksi massa yang menggalang kesadaran bersama.
Lebih lanjut, Chabib mewanti-wanti, Pemilik modal kini telah mengembangkan mekanisme baru yang membuat ketimpangan jadi tak terlihat jelas oleh kelas pekerja. Contohnya saja, bicara media massa, saya rasa siapa yang ingin ambil pusing menyikapi kepemilikan media yang hanya dipegang segelintir kalangan di negara ini? Saya tidak bermaksud pesimis. Tak kurang pula apresiasi pada pihak yang terus menyuarakan keberagaman konten maupun kepemilikan media. Namun realitas berkata lain. Saya sendiri banyak menemui keanehan, ketika banyak –tapi tidak seluruhnya-- wartawan yang memilih tunduk pada kebijakan korporat mengenai produk pemberitaan. Ini terlihat biasa. Dan kondisi ini pula berkelindan pada pembentukan realitas yang membuat khalayak turut tak ingin ambil pusing. Dalam situasi yang lain, belum lagi mengenai wacana perlawanan terhadap korupsi dan narkoba oleh masyarakat yang berhenti pada tataran simbolik, ketika penegak hukum diragukan konsistensinya.
Saya melihat, apa yang dibicarakan di media massa, terlampau idealis. Tak terhindarkan, memang. Melihat bagaimana nilai objektif yang begitu melekat seakan ada realitas yang turun begitu saja di luar pembingkaian manusia. Adapun rasio instrumental, sesuatu yang timbul dari cara pikir positivisme memang berakibat demikian. Horkheimer, salah seorang intelektual Marxian pun begitu meyakinkan berbicara tentang itu. Ada pemisahan nilai menjadi begitu bebas, diagungkan, sebagai sesuatu yang menjadi sumber segala pengetahuan. Keterpisahan manusia dan nilai pula yang membuat kita tak lagi dianggap otentik. Kita hanya dijadikan objek yang menurut saja pada sistem yang ada.
Manusia –dalam mengarungi proses dialektis dimana ia berhadapan dan seringkali terbentur dengan objek yang ia ciptakan sendiri-- dicerahkan (mengutip istilah Aufklarung) dengan bayangan modernitas. Hidup yang dijalankannya cenderung berada dalam hitung-hitungan ekonomis, untung-rugi. Dengan sendirinya, manusia terarahkan menjadi satu dimensi, seperti kata Marcuse. Gempuran industrial mengikis otonomi manusia ke kotak selera yang telah ditentukan pasar.
Rasio instrumental memang terlihat meragukan, walaupun Jurgen Habermas beberapa rentang kemudian hadir untuk memperbaharuinya. Tapi saya menyadari bahwa begini lah cara kelas menengah memonopoli pasar, yakni dengan membentuk keseragaman selera. Akal yang telah diperalat, tidak bisa lagi disebut akal yang utuh. Cuplikan Metropolis yang memperlihatkan bagaimana para buruh bekerja di bawah tanah sedikitnya menyadarkan kita bahwa akal instrumental ini memang ada. Dalam tampilan yang lebih sederhana, tak sekompleks apa yang kita lihat sekarang. Padahal semula saya secara awam menganggap penggunaan akal secara total adalah bagian dari eksistensi kita yang otonom.
Entah apa yang menarik dari keunggulan borjuis, saya tak mengerti. Tapi itu yang paling mendera, ia mengemban otoritas yang lantas terlihat berkuasa untuk menentukan pasar --tempat dimana segala hal dipertukarkan, mulai dari kebutuhan alat sampai pada pemuas perasaan. Kelas borjuasi yang begitu mengait simpul kekuasaan, lantaran berdaya penuh atas modal dan seterusnya, lama kelamaan menjelma jadi sebuah citra yang bebas dari segala penandaan. Seperti dalam Metropolis, jika kita lihat bagaimana kota itu berjalan, begitu sistematis, dibalik impian dan kesengsaraan..[]
*Cuplikan film Metropolis. (Sumber: IMDb)
-2.jpg)

Komentar
Posting Komentar