Anomali
Kesempatan bertemu dengan James T Siegel tentu tak terlupakan. Ia menggugah saya dengan serangkaian pertanyaan mendasar akan banyak hal yang menuntut reinterpretasi. Beberapa, seperti urgensi pergerakan, realitas hukum, dan yang tak kalah penting, ia bicara tentang Aceh. Ia pasti sepenuhnya menyadari, tanggapan ia peroleh dari seorang yang sama sekali tidak punya kapasitas teoritis. Karena James saat itu tengah menggali subjektifitas saya, yang tak lain korban -- atau lebih halus-- protagonis dari sebuah pola lingkup yang bagi saya sendiri tak tercerahkan secara rinci.
Paparannya tentang sejarah membawa saya menerawang. Ada plot identik yang terulang terus menerus. Ceritanya tentang Aceh, subjek penelitiannya pada dasawarsa 60-an itu, kembali mengurai permasalahan yang sama. Antropolog dari Universitas Cornell, Amerika Serikat ini tengah membincangkan intoleransi. Meskipun tersirat, pada subtansinya, semoga saya tidak salah, ada anggapan yang tak bisa diremehkan bahwa perjuangan di wilayah - wilayah "timur" tak bisa dilepaskan dari pergerakan sporadis, dan juga, reaksioner.
Apa yang membekap psikologi tentang Aceh yang didera konflik berulang-ulang, memberi pengaruh terhadap perkembangan karakter masyarakat itu sendiri. James, dalam pengantar kumpulan fiksi karya Azhari --yang menurut saya sangat satir-- Perempuan Pala, menyebutkan, malapetaka yang bertubi-tubi pada akhirnya mendorong situasi penderitaan jadi tampak wajar.
"Ketika malapetaka menggusah situasi wajar, maka realisme sudah tercampakkan," ungkapnya.
Maka saat itu lah orang sedang membangun realitas yang baru. Kekerasan yang dipicu intoleransi lantas membudaya, lantaran suasana tersebut sudah dianggap wajar dalam keseharian masyarakatnya. Kekerasan sebagai dampak dari dendam, lahir dari sebuah proses --yang dalam paradigma konstruksionis disebut -- dialektika. Internalisasi, sebagai salah satu unsurnya, dapat kita gambarkan, seseorang yang menerima keadaan konflik, baik kekerasan secara langsung terhadapnya maupun akibat dari interpretasi pemberitaan media yang kerap menampilkan darah, senjata, militer, tangisan perempuan dan anak yang kehilangan, sampai pembelaan sepihak, lambat laun menciptakan unsur berikutnya, objektivasi.
Objektivasi disini dapat berupa perasaan syak, saling curiga, yang kemudian "melembaga" di segolongan orang. Saya tidak hanya menaruh perhatian pada kecurigaan yang "menyusup" pada institusi agama, paling sederhana kita contohkan ketika ramai sebutan "Pa'i" terhadap pihak lain. Konfrontasi rasial juga bisa memicu. Kita dapat menyaksikan sendiri bagaimana pandangan sekeliling kita mengenai primordialisme. Mental semacam ini perlahan memencar, meski dirasa tidak rasional, terhadap apa saja selain persoalan agama, suku, dan strata sosial. Konon lagi jika saya kembali ingat "perjuangan pembebasan kelas" nya Marx, saya semakin yakin bahwa perseteruan yang terjadi dimanapun tak lepas dari persaingan sosial.
Disadari atau tidak, hagemoni semacam ini, kemudian, mengalami proses berikutnya, eksternalisasi. Disini lah orang-orang menularkan kerentanan. "Kita" menyikapi yang "bukan kita" sebagai ancaman. Kadang saya sulit memahami dalih yang menginginkan stabilitas, apakah mereduksi dinamika itu jalan yang tepat?
Tidak salah jika James T Siegel juga cenderung menyamakan konteks Aceh kini dengan Aceh saat puluhan tahun yang lalu. Kesan ini menyadarkan saya, bahwa kita, secara tersirat tengah mengidap suatu gejala akut......anomali. Sebuah corak abnormalitas yang terinstitusi secara turun temurun. Tak terelakkan.
Singkat kata, situasi ini merangsang kita untuk memilih apakah bersikap dinamis atau konservatif. Sebagaimana dalam Perempuan Pala tercurah, pekerjaan "memikirkan kebudayaan" sebagai hal yang cukup sulit dilakukan di saat sekarang, harus dirujuk ulang. Entah, bagi saya hanya ini lah cara menuntaskan anomali. Apakah pernyataan James tentang stagnasi tadi menggerakkan kita untuk lebih berpikir objektif?
Atau anomali hanya lah reaksi segelintir? Saya tak dapat menekan nalar sendiri. Terkadang ada yang merasa nyaman dengan "kepicikan". Kadang itu lah normalitas. Sayang, pengertian "normal" itu begitu relatif. Ia punya pangsanya sendiri, pangsa pragmatisme. Ia lah yang menentukan kapan situasi disebut normal atau tidak.
(26/01/2016)
-2.jpg)

Komentar
Posting Komentar