Di Tapaktuan

Minggu lalu menjadi saat yang sangat berkesan untuk beberapa tahun ini. Berkesempatan untuk pulang ke Aceh Selatan sangat menyenangkan, terlebih aku melewatinya sendiri tidak bersama keluarga. Dengan begitu aku merasakan momen dan lebih leluasa untuk kunikmati.

***

Tepat 12 tahun lalu, saat masih seusia SD. Kota kecil yang hampir setiap rumah yang letaknya berderet di sepanjang jalan dan membelakangi laut itu kian menyisakan banyak cerita. Yang paling kuingat adalah saat konflik GAM dan TNI yang sangat meresahkan. Mungkin ceritanya tak separah yang terjadi di daerah lain. Hanya saja tiga tahun dibesarkan dengan kalimat bernada was-was seperti “hati-hati jangan main ke daerah itu…ada mayat yang lagi-lagi tergeletak di jalan menuju kampong halaman kita… ada yang diculik…” dan masih banyak lagi, tentunya membuatku tumbuh dengan rasa takut yang berlebihan.

Pernah suatu malam saat aku bermain bersama teman-teman di teras rumah, mendadak ada himbauan dari seorang warga di pinggiran jalan, sambil berlari ia berteriak,” cepat-cepat semua masuk ke dalam, truk tentara mau lewat,” ucapnya sambil menyuruh semua warga di sekitar situ mematikan lampu rumah mereka. Aku yang terlalu kecil untuk bertanya mengapa harus melakukannya demikian saat tentara datang, lebih memilih jadi anak yang taat perintah orang tua, berpisah dengan teman sepermainan dan bergegas masuk ke rumah.

Dari dalam rumah ibu langsung menyuruhku masuk ke kamar, aku masih tidak mengerti. Kucuri kesempatan untuk mengintip keluar melalui jendela kaca ruang tamu yang telah gelap gulita, sama seperti jalanan yang mendadak kehilangan cahaya penerangan dari seluruh penjuru kampung. Saat kutarik sedikit gorden, Sayup-sayup terdengar suara orang tua di luar sana yang bergegas sambil berbisik satu sama lain. Sepertinya salah seorang dari mereka mengajak yang lain untuk bersembunyi ke sebuah kedai kopi di pinggir jalan, yang juga mendadak padam lampunya. Aku samar melihat bayang mereka yang hanya diperjelas cahaya bulan, namun suara kerikil dan pijakan tanah yang tak beraturan dari langkah mereka yang tergopoh-gopoh, cukup membuktikan betapa paniknya mereka.

Aku masih tidak mengerti kenapa semua warga kampung bertindak aneh, karena kupikir tentara itu bukan hantu yang ketika dilihat lantas kita harus lari terbirit-birit. Sepintas kudapatkan jawaban yang meragukan, apa karena mereka menenteng senjata yang membuat orang takut ditembak? Namun, lamunanku saat itu mendadak pecah saat terdengar suara gertakan ibu dari ruang tengah, ”Marza! Masuk ke kamar! Jangan berdiri lagi di situ.”

Kuurungkan niat untuk bertanya pada ibu perihal keanehan ini, sambil menuju kamar, kulihat ia masih duduk di ruang tengah sendirian.

“Mak,”aku memanggil.

“Masuk aja, mamak tunggu ayah ni, belum pulang dari Samadua.”ia menjawab singkat.

Tak kupedulikan lagi, mungkin usiaku yang masih 9 tahun belum mengerti bahwa itu adalah ungkapan kekhawatiran. Yang kutahu ayah sudah biasa pulang pergi dari kecamatan Air Berudang ke Samadua. Sejak ia dipercaya menjadi Teungku imam salah satu mesjid di desa Panton Luas, ayah selalu menghabiskan waktu magrib dan Isya disana. Tapi malam itu, semuanya berjalan tak biasa. Terlalu banyak kepanikan yang tak kumengerti. Dan malam pun berlalu hingga keesokan harinya tidak ada pembahasan apa-apa lagi tentang yang terjadi saat itu.

 Mentari hampir menyentuh ujung laut, membuat jejak bayang pohon kelapa di tepi pantai semakin menutupi jalanan aspal. Begitu dekatnya ombak dengan lalu lalang kendaraan, hampir persis dengan pemandangan di kawasan Lhok Nga, Aceh Besar. Hanya saja di sepanjang jalan Sawang menuju Samadua, derunya terdengar lebih jelas.

Tepat di perbatasan Samadua dan Ibukota Aceh Selatan, aku singgah sejenak di Gunung Kerambil. Melintasi jalanan berkelok naik turun gunung. Tepat di atasnya, beberapa kedai persinggahan kutemui. Suasananya tak berubah, masih seperti 12 tahun yang lalu. Seingatku, dulu kami bersama teman-teman mengayuh sepeda untuk mencapai tempat ini. Sepanjang jalan, yang terlihat hanyalah pohon kelapa miring menjulang, di gunung hingga jurang terjal ke arah laut.

Sulit untuk mengungkapkannya, pemandangan ini sangat mendambakan. Terlalu banyak kenangan, konflik, arena bermain, teman semasa kecil, serta aroma pasir laut. Sesekali terkenang saat-saat berlarian bersama teman-teman mengejar boat nelayan yang baru saja menepi. Dengan menggunakan roda berupa potongan kayu pohon kelapa yang tergelatak di pasir laut, kami beramai-ramai mendorong boat hingga ke tepian pantai. Pertama mencoba, aku sempat terjatuh dan teman menertawakan sambil melayangkan bongkahan pasir sebesar bola kasti ke arahku.

Kami bersenang-senang tiap petang. Usai membantu nelayan, kami selalu diberi imbalan dua atau tiga ekor ikan segar, membuat kami kegirangan dan bergegas membagi tugas, ada yang menyiapkan pecahan tempurung dan ranting kayu untuk dibakar. Tak lupa membeli kecap manis bungkusan kecil, dan, waktunya untuk panggang ikan.

 

Komentar

Postingan Populer