Ruang Temu Identitas
"Persis sama seperti tahun lalu, saya kembali menyerap wacana, di mana identitas bertaut dengan stigma yang mengalirkan dampak-dampak yang mungkin peliknya tak sekadar dibayangkan, tapi menubuh dan traumatik."
![]() |
| Dok. Aceh Cinema |
Akhir Februari 2026, saya mendapat kesempatan untuk menjadi programmer di Aceh Screening Week, wadah rutin pemutaran film oleh Aceh Cinema yang berlangsung di Aula Bioskop Mini Balai Pelestarian Kebudayaan, Banda Aceh.
Mendiskusikan banyak hal sebelum memilih filmnya, saya tak menduga, tema identitas dan ruang yang sebelumnya pernah menjejali isi pikiran saya saat mengkurasi film untuk Aceh Documentary Forum (ADF) setahun lalu, kembali mencuat kali ini.
Persis sama seperti tahun lalu, identitas kembali bertaut dengan stigma yang mengalirkan dampak-dampak yang mungkin peliknya tak sekadar dibayangkan, tapi menubuh dan traumatik. Saya memberikan sedikit ulasan yang sepertinya penting untuk saya arsipkan secara personal. Berikut catatannya.
Tiga film dalam program Aceh Screening Week (ASW) #2 kali ini tak sekadar membicarakan sisi dogmatik, namun ini tentang tubuh, pengalaman, ruang, dan relasi kuasa yang melekat pada identitas keagamaan. Kita juga melihatnya sebagai medan sosial, ruang di mana prasangka diproduksi, stigma dilekatkan, sementara di sisi lain ada resiliensi serta kasih sayang dalam keseharian.
Di sini, identitas tak semata teologis atau politis. Karena realitasnya, yang paling menentukan justru pengalaman sehari-hari individu yang tubuhnya memanggul identitas itu.
Dalam film Sebab Ini Hari Minggu (Ariyandi Achbar, 2025), tampak satu keadaan ketika identitas bisa menjadi beban yang dibaca secara sepihak oleh publik. Sementara film Mom Minding The Mosque (Gladhys Elliona, 2024) memperlihatkan keberagamaan sebagai kerja sunyi dan ketahanan hidup di ruang diaspora.
Kita juga disuguhkan satu film panjang, NINAVAU (Bebbra Mailin, 2025) yang menyajikan dilema personal ketika iman, keluarga, gender, dan tradisi bergulat dalam satu tubuh perempuan. Ketiganya membentuk ruang temu, tentang beroperasinya identitas agama dalam masyarakat yang sarat prasangka, namun juga dapat memunculkan empati.
Mengaitkan prasangka dan ketubuhan perempuan, Sebab Ini Hari Minggu menunjukkan bahwa prasangka tak muncul tiba-tiba saat massa meneriakkan “teroris”. Prasangka sudah hadir sejak prolog, ketika Nurul, seorang perempuan berhijab mengalami pelecehan seksual di angkutan umum. Adegan ini penting, karena sebelum stigma terorisme dilancarkan, lebih dulu tersingkap keadaan bahwa simbol kesalehan tidak melindungi perempuan dari objektifikasi.
Hijab di sini jadi ironi. Di satu sisi ia tanda religiusitas. Sementara di sisi lain, tubuh yang mengenakannya tetap diperlakukan sebagai objek. Patriarki dijelaskan bekerja lintas simbol, tidak peduli perempuan itu berhijab atau tidak. Identitas agama tidak otomatis membatalkan relasi kuasa gender.
Ketika adegan berlanjut ke gereja, film ini memperluas persoalan. Seorang perempuan Muslim memasuki ruang ibadah Kristen dalam kondisi darurat biologis. Keraguannya bukan sekadar rasa sungkan. Ia adalah cerminan dari batas sosial yang selama ini kita bangun antara “kita” dan “mereka”.
Adegan ledakan bom yang menyentak kemudian membuka lapisan lain, paranoia kolektif. Teriakan “teroris” oleh massa ke arah perempuan itu, adalah bagian dari sejarah panjang wacana terorisme yang dilekatkan pada simbol-simbol tertentu. Di sini kita perlu jujur, siapa yang selama ini membentuk asosiasi antara pakaian dengan ancaman.
Dalam konteks Indonesia pascareformasi, narasi terorisme banyak dibingkai melalui kebijakan keamanan dan pemberitaan media. Kampanye deradikalisasi juga kerap menguatkankan narasi itu. Simbol-simbol tertentu distigmatisasi sebagai tanda potensi bahaya. Film ini memadatkan seluruh beban wacana itu dalam satu adegan panik di depan pintu toilet.
Yang menarik, semua itu terjadi dalam kepala tokohnya, Nurul, yang berhalusinasi. Tapi justru di situlah kekuatannya. Stigma yang terus-menerus diproduksi akhirnya hidup di dalam diri. Ia membayangkan dirinya dituduh, dihakimi, dan dikejar, bahkan sebelum itu benar-benar terjadi. Inilah cara kerja prasangka struktural, ia merasuk ke dalam kesadaran individu.
Resiliensi Sehari-hari
Jika film pertama menyoroti luka dan stigma, Mom Minding The Mosque menghadirkan wajah lain dari keberagamaan, yakni kerja perawatan. Di Brazil, Bu Ipah (Ipah Sajab), seorang perempuan Indonesia menjadi penjaga masjid. Ia memasak, membersihkan, mempersiapkan sahur dan berbuka. Tidak ada adegan heroik, tidak ada konflik besar. Yang ada adalah konsistensi.
Di sini, agama hadir sebagai praktik domestik sekaligus sosial. Perempuan itu bukan ustazah, bukan tokoh publik, bukan figur karismatik. Ia bekerja dalam sunyi. Namun justru di situlah letak ketahanannya.
![]() |
| Sesi diskusi bersama Khalida Zia (kanan) usai pemutaran film NINAVAU dalam ASW #2, yang digelar Sabtu (28/2/2026) di Bioskop Mini BPK Wil.II, Banda Aceh. [Dok. Aceh Cinema] |
Untuk konteks lingkungan kita yang barangkali sering melihat agama sebagai institusi formal dengan perangkat regulasi, film ini menawarkan perspektif berbeda, agama sebagai etika pelayanan. Tidak spektakuler, tetapi berkelanjutan.
Kita juga perlu melihat dimensi gendernya. Perempuan ini memikul peran domestik dan religius sekaligus. Namun ia tidak digambarkan sebagai korban. Ia digambarkan sebagai subjek aktif yang memilih untuk tinggal, bekerja, dan berkontribusi.
Berangkat dari Luka
NINAVAU membawa kita ke ruang keluarga. Nina, perempuan Kadazan dari keluarga Kristen, kembali ke kampung dengan rahasia besar yang sulit untuk berani diungkapkan, ia telah masuk Islam. Film ini tidak menempatkan perpindahan agama sebagai sensasi. Ia menempatkannya sebagai proses batin yang rumit.
Yang penting dicatat, keputusan Nina tidak berdiri di ruang steril. Ada pengalaman pelecehan seksual di lingkungan gereja yang turut membentuk jaraknya dari komunitas lama. Artinya, perpindahan iman di sini juga terkait dengan pengalaman tubuh dan rasa aman.
Kita sering memisahkan isu kebebasan beragama dari isu kekerasan berbasis gender. Padahal, keduanya sering bertaut. Jika ruang ibadah tidak aman bagi perempuan, bagaimana kita bisa berbicara tentang kebebasan berkeyakinan secara utuh?
Film ini juga menampilkan pendeta tua yang, meski menyatakan keyakinannya atas ajaran Kristen, tetap menekankan kasih sayang sebagai fondasi. Di sinilah kita melihat kemungkinan jembatan antariman. Debat doktrinal sebisa mungkin tak dikedepankan, terutama kala pengakuan atas kemanusiaan bersama jadi lebih penting.
Dalam satu keluarga, perbedaan agama tidak otomatis memutus relasi. Ketegangan ada, canggung ada, tetapi percakapan tetap terbuka. Ini penting, karena sering kali perbedaan dibingkai sebagai ancaman, bukan realitas sosial.
Struktur dan Ruang
Ketiga film ini mengajak kita melihat identitas secara berlapis. Pendekatan interseksionalitas membantu kita memahami bahwa diskriminasi jarang bekerja dalam satu sumbu saja. Gender, agama, kelas, dan posisi politik saling berkelindan.
Dan dari sini pula banyak hal yang patut memantik kita di balik realitas film tersebut --berangkat dari anasir kecil di sepanjang film, seperti lirih pewarta radio, judul di halaman utama koran, dan beberapa pintasan lain di dalamnya-- bagaimana negara, media, dan institusi keagamaan berkontribusi, langsung atau tidak, dalam membentuk prasangka dan melanggengkan kekerasan?
Lainnya, kita perlu membicarakan bagaimana ruang, seperti angkot, gereja, masjid, dan rumah menjadi arena tempat identitas dibaca, dicurigai, dirawat, atau dinegosiasikan. Bahasan ini yang agaknya menegaskan bahwa ruang tidak pernah netral.
Dalam Sebab Ini Hari Minggu, tubuh seorang perempuan berhijab bergerak dari angkutan umum ke halaman gereja. Di angkot, radio menyiarkan berita terorisme dengan pelaku yang berpakaian serupa dengannya. Pada saat yang sama, ia mengalami pelecehan seksual. Dua peristiwa ini bukan kebetulan dramaturgis. Ia menunjukkan bagaimana tubuh perempuan menjadi titik temu antara wacana keamanan dan kuasa patriarki.
![]() |
| Sesi diskusi bersama Nanda Herlita (kanan) usai pemutaran film di ASW #2, yang digelar Jumat (27/2/2026) di Bioskop Mini BPK Wil.II, Banda Aceh. [Dok. Aceh Cinema] |
Di ruang publik, ia rentan sebagai perempuan. Sementara di ruang simbolik, ia rentan sebagai Muslim. Ketika ia memasuki gereja karena kebutuhan paling biologis karena ingin buang air kecil, ruang itu berubah makna.
Toilet, yang mestinya paling universal, menjadi ruang politis karena siapa yang menggunakannya. Keraguan satpam dan halusinasi tentang tuduhan “teroris” memperlihatkan bagaimana stigma bekerja bahkan sebelum tuduhan benar-benar terjadi.
Film ini tidak sedang menuduh satu agama terhadap agama lain. Ia memperlihatkan bagaimana prasangka hidup dalam arsitektur sosial kita. Bagaimana media, wacana keamanan, dan simbol pakaian membentuk cara kita membaca tubuh orang lain di ruang tertentu.
Berbeda dengan atmosfer kecurigaan itu, Mom Minding The Mosque membawa kita ke Brazil, ke sebuah masjid kecil yang hidup karena kerja sunyi seorang perempuan migran Indonesia. Di sini, ruang ibadah menjadi ruang perawatan. Masjid jadi ruang perjumpaan karena ada tangan yang memasak, menyapu, menyambut, dan bertahan. Identitas Muslim dalam film ini tidak tampil sebagai simbol politik, melainkan sebagai praktik keseharian yang membangun komunitas di tanah jauh dan asing.
Sementara di rumah, negosiasi terjadi antara tradisi, keluarga, dan keberanian diri. NINAVAU menyajikan gambaran ini saat perempuan kembali ke kampungnya dengan identitas agama yang telah berubah. Sementara itu, rumah ibadah dalam film ini justru menyibak trauma, meski terungkap secara subtil. Perpindahan iman Nina tidak bisa dibaca hanya sebagai pilihan teologis. Ia bersinggungan dengan pengalaman tubuh, rasa aman, dan relasi kuasa di dalam komunitas.
Di sini, interseksionalitas menjadi kunci membaca film. Selain mualaf, Nina juga perempuan, anak, bagian dari komunitas adat, dan penyintas kekerasan. Identitasnya berlapis, dan tiap-tiap lapisannya bergelut dalam ruang yang berbeda.
Tiga film ini, jika kita cermati memperlihatkan bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan gender, kelas sosial, migrasi, dan struktur kekuasaan. Ruang-ruang yang kita anggap biasa kerap menyimpan lapisan makna yang tak terlihat.
Dari ruang publik hingga domestik, dari yang paling terbuka hingga yang paling privat, identitas selalu diuji oleh cara kita membangun, menjaga, dan membagikan ruang tersebut kepada sesama. []
*Ulasan ini menjadi bagian dari catatan untuk katalog ASW #2 yang dapat juga diakses di link berikut
bw.jpeg)
bw.jpeg)
bw.jpeg)
Komentar
Posting Komentar