Senja

 Melahap detik demi detik, menanti semburat merah itu jatuh dan lenyap, seperti itu kadang orang-orang menikmati senja. Peralihan ini tak lagi menggugah karena saban hari kita saksikan, darimana pun tempat. Bisa saat cahaya itu membias dari deretan kaca pertokoan di jalan raya, semilir angin yang melegakan raga lelah, atau silau ufuk barat dalam riak gelombang di pinggiran pantai.

Yang hadir saat itu, bercampur aduk. Kelegaan yang lalu, harap-harap cemas, lalu kadang ode membaur satu cerita yang sulit dilupakan. Pikiran-pikiran memencar, menuju titik-titik definisi.

Namun, belakangan isyarat yang biasa alam tunjukkan tak selalu mengikis kealpaan. Alpa karena sekian jeda melebur  bersama kebisuan pasar, maupun rasa enggan mempertanyakan kembali -- mengapa dan bagaimana mungkin -- tentang pengabaian massal akan hal-hal yang sangat esensial, mengenai hari ini, misalnya.

Seperti rintik hujan, saya mendengar Cholil bersenandung pelan di Efek Rumah Kaca, "..berelegi di balik awan hitam.."

Pada satu waktu musik mereka mengajak kita beristirahat setelah lelah meneriakkan petisi. Mereka merangkumnya di satu judul, Desember. Oase dalam kebisuan aksara. Sama seperti kita yang mencamkan hari-hari tertentu dalam hidup kita. Alunannya yang pelan membawa senyap, berkelindan...pula kita renungi bahwa di rentang kebiasaan seperti mendung, hujan mampu memantik cerita. Hal yang dapat saya resapi, bahwa dalam riuh dan riang kadang kita jadi lupa untuk berhenti sejenak dan melihat sekeliling, ada yang berubah karena tak biasa. Detik saat itu momentum, mengandung sesuatu yang "lebih" sehingga ia begitu khas.

Tentang senja, Oka Rusmini dalam 'Tarian Bumi' menuliskan,

"Terus menari, sampai tak terasa lagi sebuah senja miliknya telah hilang, menguap dan digantikan malam.."

Oka berkisah tentang seorang bernama Telaga, perempuan Bali yang dilebur situasi "pemberontakan" terhadap budaya patriarki, feodalis, dan mengungkung posisinya yang semakin terpinggir karena dominasi kaum laki-laki.

Senja di kala itu merajut keresahan. Kegelapan malam yang datang kemudian lebih pada "pekat" tanpa lentera sehingga tak diinginkan. Telaga seperti ingin senja berlangsung terus menerus. Karena,

"Senja membuat tatapannya pada langit, ia rasakan ada potret hidupnya bergantung disana," tulis Oka.

Tapi, toh, malam tetap melahap. Kesedihannya, terhadap senja yang hilang bukan tak mungkin ia peroleh kembali di akhir sore yang lain. Peminggiran dialami Telaga yang berduka pada lahir, juga dihembus sejarah pada situasi yang lain di tempat yang lain lagi. Sejarah bak perputaran roda, berulang.

Mengingatkan saya pada 'Sejarah Aib' yang ditulis Jorge Luis Borges. Dalam pengantar di tahun 1954 ia pernah mengatakan bahwa absurditas abad-abad 19 lalu melahirkan citra yang mirip dengan tokoh zaman sekarang.

Seperti kejahatan bikinan sekaliber konspirator Lazarus Morell, misalnya, membuat saya tergelak. "Dewa palsu" para budak hitam yang gelap mata karena dibuai iming-iming uang dan kemerdekaan diri ini, saya pikir tak ubahnya seperti potret mucikari, atau sindikat mafia asuransi yang memperalat anak-anak tunawisma.

Senja pula yang memancarkan pengulangan. Potret yang sama dalam waktu berbeda. Manusia lah yang membagi dalam tanggal, bulan , dan tahun untuk memudahkan pemetaan. Karena dalam tiap senja yang terus berganti, manusia berubah, lahir, tua, dan mati. Tapi senja tetap sama, momen peralihan terang-gelap.

Seperti hujan, senja juga saksi. Seperti energi negatif yang menularkan jiwa Morell ke pemuas nafsu di tiap lintas zaman. Mereka menyaksikan manusia yang peradabannya terus berubah. Setia menindih awan yang mengarak lemah. Menertawakan kesedihan Telaga yang semakin lama, menahbiskan ketidakberdayaan manusia.

Peminggiran, atau pengekangan terhadap aspirasi kaum kiri yang terjadi sehari lalu, cukup memperlihatkan -- seperti yang ramai disebut pengamat di jejaring sosial -- senjakala kebebasan berpikir. Senja disini tak kalah muram. Termaknai sebagai akhir, sekaligus tampilan paradoksal, dari kenyataan bahwa suara gaung pemimpin juga tak lain adalah spirit sosialisme yang sama. Apa ada perbedaan dalam melaksanakan amanat pasal 33 Undang Undang 1945 antara aktivis jalanan, pemerintah, maupun oposisi? Barangkali ada standar ganda. Senja pun tepat dipadankan dengan konstelasi yang ada. Gambaran sekumpulan orang yang merindukan Trisakti bung Karno.

Balada senja bagi perindu bukan pula pesimisme semata. Ada semangat yang ingin ditularkan, sebagaimana Tan Malaka berpesan,

"Kelahiran suatu pikiran menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya."

Seperti senja yang menghibur dengan kemungkinan esok hari yang cerah, ia mengenalkan pagi. Sebuah semangat, yang tak jarang bagi orang-orang yang menderita, bisa diracik jadi bara. Baik senja dan pagi sama-sama dimulai oleh cahaya merah yang menyemburat perlahan, hanya bertukar peran, seperti peradaban.

Komentar