Anak Lusuh

Seperti sepatu Aylan yang terbujur kaku di pantai Turki, sandal lusuh Fatih, pekat lumpur yang melekat dalam hujan yang mengguyur. Pakaiannya basah kuyup dalam raut wajah kebingungan. Tak ada dalil mumpuni yang menawar keresahan mereka hingga tak tepermanai. Anak-anak, adalah ketiadaan dalam pusaran masalah, begitu kuli tinta abai, mereka saksi bisu, lantaran satu-satunya pihak yang tak punya suara.

Mereka menanggung beban ayah ibu. Wajah mereka adalah wajah iba. Namun tak merangsang getaran apapun bagi penganut pemurnian. Mereka adalah komoditas bagi modernisme kapitalistik. Tak peduli hak asasi. Tapi memang kenyataannya penindasan adalah barang tontonan. Dan Fatih, berjalan tunduk lesu dalam peluh bercampur guyuran hujan meninggalkan puing rumah dalam kepulan asap.

Fatih menenteng erat mainan mungilnya. Lengan sebelah lagi diikat jemari sang ibu yang seiring jalan menitikkan air mata. Rumahnya dibakar, harta dan lahan habis dimakan amarah. Alasan semua ini, ayah dan ibu Fatih memendam iman yang terlarang. Iman-- dimana oleh orang-orang yang belum pernah singgah ke surga untuk menanggung keterangan pun-- tak boleh beragam.

Apapun Fatih cilik, menjaga satu-satunya hartanya yang tersisa dalam genggaman eratnya, mainan berbentuk burung dari ukiran kayu  yang dibuat ayah saat sela bertani di lahan. Lahan itu kini sudah dirampas penduduk setempat, setelah dua kali panen hasilnya dibagi ke mereka.

Perihal kuli tinta yang tak peduli Fatih, mereka bercerita, keluarga Fatih mengidap ajaran sesat, yang lain bilang itu komunis gaya baru. Yang lain lagi bilang, mereka gemar menginjak kitab suci, yang lain bilang, mereka enggan sembahyang, yang lain bilang lain lagi. Begitulah kuli tinta di negeri ini hidup. Mereka hidup dengan "kata yang lain lagi dan yang lain lagi". Menurutnya, makin banyak kata yang lain, makin besar pula lah kebenaran.

Keleluasaan kuli tinta pula yang membentuk realitas, menggalang gerombolan untuk bergerak, merangsek, bermodal ramai, lalu berderu derap menghabisi orang yang imannya--pantang disinggung--berbeda.
Maka tak jarang korban berjatuhan, sampai kita simpulkan, dilarang bersedikit. Karena bersedikit itu eksklusif-- kalau dalam sebutan politikus-- terselubung. Kemudian akan ramai orang berteriak, basmi!

Cerita Fatih bukan barang baru, karena Fatih sekeluarga adalah komoditas. Kala menjual aset pribadi hanya untuk bertani di pedalaman, kala menggarap lahan tanpa bantuan dana rentenir, kala membagi hasil panen secara cuma-cuma pada warga yang tak dapat menembus harga pangan yang selangit, adalah perbuatan aneh. Otoritas sabdawi di negeri ini menyebutnya "misionaris", gerakan aneh nan terlarang, membahayakan, radikal, tapi membolehkan aparat melepas pengamanan bagi mereka yang membabibuta menghanguskan lahan dan rumah yang tak berhak. Di suasana demikian lah Fatih hidup.

Apa daya, Fatih masih terlalu kecil. Umurnya baru lewat lima tahun, dan ibu enggan memberi penjelasan mengapa ini terjadi. Fatih baru tembus belajar Pancasila. Ia cuma mampu hafal sampai sila ke tiga, minus maknanya. Jadi tak perlu sibuk-sibuk menjelaskan keadilan padanya. Berapa tahun berselang lagi ayah bakal bilang soal kaum minoritas, mudah-mudahan Fatih akan mengerti.

Atau akan bertanya dengan heran? Dimanakan tempat bagi orang-orang seperti mereka, saat dimaki orang berjubah "Mati lah kalian..di dunia sengsara, di akhirat disiksa.."

Fatih mungil diraih sang Ayah, ia dinaikkan ke Truk tentara untuk dievakuasi bersama ratusan orang yang bernasib sama. Bersama kesedihan yang membuncah dan rintik hujan yang tak kunjung reda, mungkin hujan bisa menawar panasnya api dan kepulan asap. Fatih kecil, dengan goresan arang menghitam di sekujur badan, ia menyelamatkan satu-satunya yang bisa, mainan kesayangannya.

Komentar